Ratih terus memandangi wajahnya dikaca, raganya memang
berada di depan kaca tetapi, pikirannya entah melayang kemana. Ia merasa tak
lama lagi akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya, terlebih lagi ucapan
dokter Reza yang menyatakan waktunya tak kurang dari 3 bulan. Ratih memang tak
takut akan kematian yang siap menjemputnya kapan saja tapi, yang selama ini
menghantui batinnya adalah bagaimana bisa Andi yang merupakan kekasihnya
melewati masa-masa yang sulit ini. Tersadar kedatangannya di tunggu Andi, Ratih
pun segera menghapus setetes air matanya yang jatuh dan segera mencuci mukanya,
dihilangkan wajah pucat dan penuh rasa sakit dengan senang dan gembira. Dia tak
akan mau masa masa terakhirnya di dunia tak akan berkenang di hati yang dicintainya.
“kamu cantik banget hari ini tih,yuk jalan”. Andi yang
takjub melihat penampilan Ratih hari ini pun segera menarik tangannya dan
mengajaknya naik keatas mobil. “kita mau kemana nih ?” ujar Andi sambil terus
berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.”hmmmm, bagaimana kalau kita ketaman yang
disitu aja,kata bang Rekka sih disitu viewnya
bagus”.jawab Ratih sambil menunjuk sebuah taman yang berada di ujung jalan itu.
Mereka berkeliling di taman itu dalam waktu yang cukup lama, sampai menemukan
tempat yang cocok untuk sekedar menikmati angin sore dan snack yang sudah
disiapkan Ratih sebelumnya.
Setelah selesai menikmati snack yang dibuat Ratih, mereka
pun membaringkan badan dan memandangi langit yang tampak penuh dengan kilapan
cahaya bintang yang jauh disana. Tanpa terasa kata kata itu terucap dari mulut
Andi.”when I see your face, is like
watching the night sky or a beautiful sunrise or so much they hold and just
like the old star I see you come so far to right where you are how old is your
soul?”. Sepatah lirik lagu I won’t
give up itu di hentikan oleh gumaman Ratih.”kalau aku meninggal besok kamu
gaboleh nangis ya di,kamu harus bisa menjalani hidup kedepan tanpa aku, kamu
juga gaperlu sedih Karena aku akan selalu ada disini dan disitu”. Ujarnya tanpa
dibantah Andi sedikitpun sambil menunjuk area dada Andi dan menunjuk salah satu
bintang paling terang yang mereka lihat.”kamu ngomong apaan sih tih, aku gamau
kehilangan kamu, seberapa berat halangan yang diberikan, aku akan selalu
bersamamu”. Gusarnya karena dia memang tidak ingin kehilangan Ratih tapi, pas
dilihatnya Ratih sudah tertidur pulas di lengannya.”even you sleep,angry,sad,happy you’re still a beautiful girl that’s why
I love you tih”.
Keesokan paginya Ratih terbangun dengan perasaan yang sangat
senang, dia bergegas ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap menuju rumah
sakit untuk kemoterapi. dan hari ini dia kesana sendirian, mama dan papanya
pergi keluar kota, sedangkan Andi, ia justru tidak tahu kalau ratih punya kanker hati
karena selama ini Ratih selalu menyembunyikannya dari Andi, ia tak ingin
melihat Andi sedih.
Ratih sempat menangis ketika mengetahui rambutnya helai demi
helai meninggalkan kepalanya, Karena selama ini Ratih dikenal sebagai perempuan
yang anggun dan cantik dengan rambut panjang, ini semua akibat dari kemoterapi
yang dilakukannya ratih segera bangkit, ia merupakan perempuan yang tangguh dan
kuat. Ia berlari ke kamar orang tuanya untuk segera mengambil wig mamanya dan
segera bersiap – siap menuju rumah sakit.
“hmm nampaknya sel kanker yang berada di hatimu mulai
mengecil tih, berarti kemungkinan kamu untuk sembuh lumayan besar juga,
semangat ya!” Ujar dokter Reza sambil melihat hasil tes laboratorium yang baru
selesai dilakukan Ratih, sesaat sebelum dia melakukan kemoterapi. Setelah
selesai urusannya dirumah sakit, Ratih meminta Andi untuk menjemputnya ditaman dekat
rumah sakit itu. Mereka berkeliling disekitar taman itu, melihat anak kecil
berlarian dengan riang sambil memegang balon lalu, Andi mengambil seputik mawar
putih yang mekar dengan anggunnya lalu dijentikan di telinga Ratih, mereka
menuju ke kedai ice cream di dekat taman itu dan membeli dua ice cream dengan
rasa Exotic Love , rasa ice cream yang merupakan kesukaan mereka berdua.
Setelah membeli ice cream mereka berlari menuju mobil untuk pergi kesebuah
pantai di daerah utara kota itu.
Ratih telah menghabiskan ice creamnya ketika sampai disana,
ia segera lari menuju pantai dan menarik tangan Andi. Mereka bermain pasir dan
air layaknya anak kecil, dipantai itu tanpa tersa waktu sudah menunjukan pukul
5 sore, dan artinya sebentar lagi akan sunsets.
Sebelum menikmati sunsets Andi dan Ratih
menulis sebuah surat yang menyatakan Cinta mereka akan abadi dan apabila salah
satu dari mereka ada yang meninggalkan mereka terlebih dahulu surat yang
dikubur di bawah pohon kelapa itu harus dilemparkan ketengah laut. Setelah
mengubur suratnya, Andi mengajak Ratih untuk mengeringkan badannya dan segera
menikmati sunset sore itu di tepi pantai. Sambil menikmati sebuah kelapa mereka
berdua duduk diatas pasir putih yang berkemilau seperti mutiara. Badan mereka
tersapu oleh cahaya emas dari sang surya yang sebentar lagi akan terlelap
dengan gagah. Andi menatap Ratih dengan tatapan yang aneh baru kali ini ia
melihat wajah kekasihnya itu tampak pucat sekali, tapi ia tak berani
membangunkan Ratih. Andi mersakan sesuatu yang dicintainya akan
meninggalkannya. Ia tak tahu pasti apa itu yang pasti sedang merasa sangat
gelisah.
Setelah mengantarkan
Ratih pulang kerumahnya Andi pulang dengan perasaan yang sangat gelisah. Karena
ia mendapatkan firasat akan ditinggalkan seseorang yang dicintainya dan melihat
wajah Ratih yang amat pucat. “apa Ratih yang bakalan ninggalin gua sendirian
disini ? gak, gak, gamungkin Ratih gamungkin tega ninggalin gua sendirian”.
Batinnya berkecamuk antara logika dan perasaanya. Andi memutuskan untuk segera kekamarnya dan
menelpon Rama yang merupakan sahabat terbaiknya.
“Ram, gua mau cerita nih, jadi belakangan ini kaya ada
sesuatu yang disembunyiin Ratih dari gua, terus nih tadi pas lagi jalan Ratih
mukanya pucet banget .” ujarnya sedangkan disebrang sana Rama mendengarnya
dengan baik, memang hanya Rama yang menurut Andi bisa menjadi listener yang baik. Setelah Andi menceritakan semuanya kepada
Rama dia pun merasakan agak lebih tenang dan tak se gelisah waktu dia
mengantarkan Ratih pulang. Malam itu Andi tidur ditemani semilir angin malam
yang lembut nan sejuk dan di terangi temaram pilu sang penjaga malam.
Keesokan paginya Andi seperti tak ingin beranjak dari
pangkuan sang malam tapi, sang surya menggelitiknya dengan sinar yang hangat
nan lembut di pipinya itu. “Ndi aku pengen mngomong sesuatu sama kamu, bisa gak
kita ketemu ? di taman tempat kita kemarin jalan aku tunggu ya jam 3 sore
jangan lupa saying, ilysm”. Andi yang
membaca sms itu pun hanya tersenyum sambil menggosok matanya Karena masih ingin
terlelap.
“aku gabisa tih, satu
jam aja gaketemu kamu kangen banget tapi apalagi ini yang 24 jam gak,gak aku
gabisa nanti kalau kamu kenapa”.belum selesai kata kata itu keluar dari mulut
Andi, tangan Ratih sudah menyumbatnya.”aku gak akan kenapa kenapa kok ndi,
tenang aja sekarang kamu Cuma perlu ngelaksanain tantangan buat anniversary
kita yang 2 tahun dengan gak ketemu aku selama 24 jam oke. No phone, no texting, no chatting ya ndi kamu harus bisa percaya
kata aku”. Setelah menghabiskan lemon
tea dan membayar billnya Ratih segera keluar dari café dekat taman itu, ia
segera memberhentikan taksi yang melintas dan entah pergi kemana. Ratih hanya
bepura pura tegar di depan Andi Karena ia percaya waktunya tak kurang dari sehari
dan ia tak ingin melihat Andi sedih, ketika didalam taksi ia hanya menangis.
Andi masih termenung dengan segelas kopi yang dari tadi tak
henti hentinya di aduk, ini merupakan gelas kelima sejak dirinya ditinggalkan
Ratih untuk tantangan yang diberikannya. Ia terus berfikir bagaimana melewati
24 jam tanpa Ratih, biasanya jam 4 sore seperti ini mereka berdua selalu pergi
berjalan jalan entah itu ke festival malam, pantai atau hanya sekedar menikmati
2 scoop penuh ice cream rasa kesukaan mereka tepat di taman sebrang café itu.
“masih 20 jam lagi hmm suck this feeling” umpatnya sambil terus memerhatikan
jam di kamarnya itu.
Sedangkan Ratih, ia mengasingkan diri di sebuah villa milik
orang tuanya dan hanya ditemani Sasha sepupunya yang memang tinggal disitu Karena sedang melakukan penelitian untuk
skripsinya. Ratih hanya merenungi akan dirinya di dermaga yang dibuat papanya
untuk memancing, ia menatap langit sore . dibawah cahaya emas yang mulai
melahap dirinya perlahan pun Ratih terus berfikir akankah Andi akan terus
mengenangnya kita ia sudah tak ada lagi di dunia ini. Setetes darah segar
mengalir dari hidungnya dan membawa semua pertanyaan yang penuh akan pilu dan teramat
perih. Ratih segera berlari masuk kedalam villanya air hujan menghapus bekas
darah yang mengalir itu, ia juga bingung dari sore yang cerah menjadi begitu
mendung dan hujan turun dengan derasnya. Malam itu ketika Ratih sedang
memandang fotonya dan Andi dan mengenang semua kejadian yang pernah mereka
alami, tiba tiba badan Ratih mengalami panas yang tinggi sampai kejang-kejang
mulutnya terus melontarkan nama Andi, Sasha yang hanya sendiri disana pun panik
harus melakukan apa. Ia mengompres kepala Ratih untuk menurunkan panasnya dan
segera jari jari cepatnya menekan nomor telepon rumah Ratih tetapi, tak ada
yang menjawab, ia coba lagi untuk menelpon bang Rekka dan bang Rekka segera
kesana untuk membawa Ratih kerumah sakit. malangnya Ratih telah tiada 5 menit
sebelum sampai dirumah sakit dan sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya ia
mengenggam secarik kertas dan
mengucapkan. “Andi ilysm”. Sasha yang memangku kepala Ratih pun menangis begitu
juga Bang Rekka yang masih terus berkonsentrasi menyetir matanya sembab oleh air yang mengalir membawa
pilu.
Sesampainya dirumah sakit bang Rekka segera menelpon mama
dan papa dan memberitahukan bahwa Ratih sudah tiada. Mama dan papa pun akan
segera terbang malam itu juga, sedangkan Andi ia sedang terlelap dan bermimpi
bertemu Ratih, dalam mimpinya Ratih mengucapkan selamat tinggal kepada Andi dan
suara petir yang mengelegar itu pun membangunkannya. Ia tersentak dan segera
menyalakan lampu, handphonenya bergetar dan ia melihat ada sebuah voice note dari Ratih yang berbunyi. “Happy
Anniversary yang ke 2 tahun sayang ilysm”.
Keesokan paginya Andi sangat bersemangat untuk segera
menemui Ratih dan merayakan hari jadi mereka yang kedua tahun. Sebelum sampai
dirumahnya Ratih, Andi dan Rama menyempatkan diri untuk membeli sebucket bunga
mawar putih kesukaan Ratih dan membeli
satu tabung ice cream rasa Exotic love untuk mereka nikamti bertiga. Didalam
perjalanan menuju rumah Ratih, Andi dan Rama saling bercengkarama dengan riang.
Ketika hendak memasuki rumah Ratih, Andi dan Rama bingung
karena rumah Ratih begitu ramai dan hampir semuanya memasang muka sedih dan
berpakaian hitam-hitam, dalam hatinya ia bertanya “siapa yang meninggal ya ?”.
Setelah memarkirkan mobilnya, Andi dan Rama segera memasuki rumah tetapi Andi
begitu terkejut karena melihat Ratih sudah terbaring dengan cantik diatas peti
mati. Andi menangis sejadi-jadinya ia tak percaya hari yang paling ditunggu
tunggunya akan menjadi hari terakhirnya untuk melihat Ratih. Bang Rekka
menghampiri Andi dan memberikan sepucuk kertas lalu pergi lagi.
“babe you win this challenge, now you must do it again! I
know you can live without me and promise to me you will never cry when you see
our picture ilysm – Ratih”. Rama yang melihat Andi masih terus menangisi
kepergian Ratih pun segera mengajakanya keluar dan menenangkannya . Setelah
mengikuti acara pemakaman Ratih satu demi satu mereka pergi meninggalkan pusara
Ratih, kini hanya tinggal Andi dan Rama yang berada disitu karena cuaca yang
lumayan mendung Rama meninggalkan Andi seorang diri. Kini hanya tinggal Andi
dan pusara Ratih, Andi masih terus menangis.
“halo babe, happy anniversary yang ke 2 tahun yaa semoga
kamu tenang disana, ini aku bawain bunga kesukaan kamu oh iya aku juga bawa
satu tabung penuh ice cream kesukaan kita, aku pergi dulu ya sayang, I love
you”. Setelah mencuim nisan Ratih pun Andi segera beranjak kemobil dan pergi ke
pantai untuk melaksanakan janji mereka, ia melemparkan botol yang berisi surat
mereka ketengah laut . setelah selesai ia bergegas ke taman tempat mereka
sering menghabiskan waktu bersama. Sesampainya disana ia teringat akan semua kenangan
yang pernah mereka jalani bersama. Ketika sedang menangis ia dihampiri seorang
anak kecil dan bertanya . “ kakak kenapa nangis ?”. Andi pun menjawab. “kekasih
kakak meninggal”. Si anak kecil tadi pun segera duduk disamping Andi dan
memberikan sebuah balon, Andi sempat bingung ketika di berikan balon tapi si
anak kecil langsung menjawab. “kakak gausah sedih lagi ya, sekarang kakak lepas
balon itu dan biarin balon itu ngebawa semua kesedihan kakak, emang terkadang
orang yang kita sayang harus meninggalkan kita duluan, tapi kakak gausah
khawatir karena kekasih kakak akan selalu ada disini dan disitu oh iya aku
duluan ya kak udah di tungguin sama nenek, soalnya mau kemakam mama sama papa
ku ”. Sambil menunjuk hati Andi dan menunjuk langit sore yang terdapat satu
bintang yang terang dan segera berlari ke neneknya yang menunggu di
sebrang bangku itu. Andi segera
melepaskan balon itu dan berjanji tidak akan pernah jatuh cinta lagi kepada siapapun sampai akhir hayatnya . Sore itu bintang yang palig terang menyinari malam
Andi yang kelabu.
THE END.